Kamis, 12 April 2012

MAKNA SEPUCUK JAMBI SEMBILAN LURAH PADA LAMBANG PROVINSI JAMBI


I. Pendahuluan
Lambang sebagai suatu tanda atau pengenal tetap baik berupa lukisan, perkataan/huruf, pada hakekatnya meruapakan pernyataan akan sesuatu hal atau mengandung makna/maksud tertentu.
Sebagai suatu tanda pengenal, maka penciptaannya ada yang bersifat induvidual maupun kolektif, bisa tentang suatu lambing atau symbol milik individual yang diakui keberadaannya secara kolektif. Maupun ada juga pengakuan atas lambang/simbol yang sifat maupun pemiliknya adalah kolektif
Kriteria lambang/ simbol yang sifat maupun pemilikannya kolektif dari suatu komunitas biasanya sekaligus sebagai tanda khas jati diri dari suatu yang diwakilinya.

Lambang Provinsi Jambi yang didalamnya termuat motto “ Sepucuk Jambi sembilan lurah “ masuk dalam kategori sifat maupun pemiliknya kolektif, milik komunitas masyarakat, rakyat dan daerah provinsi Jambi. Dengan sifat kolektifitas yang sedemikian, sebenarnya cukup layak bila kita memilki suatu uraian atau catatan ( kecil ) dari lambang Provinsi Jambi tersebut sekiranya di suatu saat kelak ( dimana penciptanya, yang mengetahui hakekat dan kemana sebenarnya tidak lagi dapat bicara ) bisa menimbulkan perbedaan penafsiran.
Tulisan ini sebenarnya hanya merupakan suatu telaahan sumber sejarah lisan yang muncul dari adanya wacana tentang motto “ Sepucuk Jambi sembilan lurah “ pada lambang provinsi Jambi dikaitkan dengan berbagai aplikatifnya di masyarakat. Dengan demikian keberadaannya bukan dimaksudkan sebagai kata putus tetapi sebagai bahan masukan dari wacana yang sedang berkembang.

II. Awal Wacana
Kendati teknik publikasi yang berbeda, dua harian Jambi Ekpres (21/6) dan Jambi Independent (23/6) memuat gugatan Usman Meng “ kembalikan semboyan Jambi keasalnya” namun dua tulisan itu, agaknya perlu mendapat tanggapan yang serius dari kita semua terutama para pengambil kebijakan di Provinsi Jambi. Penulis mengenai Usdman Meng melalui bukunya Napak Tilas Lika liku Provinsi Jambi cetakan II dengan sedikit revisi ditertibkan lagi dengan istilah cetak ulang oleh biro Binsos setda tingkat I Jambi Tahun Ajaran 1998/1999. Usman Meng dalam usianya senjanya masih tetap energik. Berbagai dokumentasi dan referensi tentang Jambi diramunya dengan apik dalam buku itu. Catatan sejarah perjuangan Jambi dimasa awal pembentukan Provinsi sedemikian hampir lengkapnya, tak heran karena beliau berada dalam pusaran perjuangan itu sendiri. A. Mukti Nasrudin (Alm) juga menulis tentang “ Jambi Sejarah Nusantara “ ( 1998). Sayangnya buku ini belum ditertibkan sebagaimana mestinya. Kita berharap referensi berharga ini dapat dibaca secara luas terutama generasi muda yang akan menapak sebagai calon pemimpin dan pelaku sejarah ( terutama sejarah jambi ) dinasa yang akan datang.

III. Telaah Sumber
“ Sepucuk Jambi sembilan lurah “ kalimat ini jadi bagian dari logo lambang Provinsi jambi. Imbuhan “se” pada kalimat “sepucuk” oleh pencipta logo lambang tersebut jelas memberikan suatu arti satu kesatuan sejarah rakyat dan wilayah Provinsi Jambi sejak masa kerajaan hingga menjadi provinsi. Penulis belum dapat menyerap proses penambahan imbuhan “se” itu baik seperti yang dimaksud penciptaannya logo lambang ataupun dikala terbuhulnya kesepakatan DPR-GR tahun 1960-an itu.
Menyimak Peraturan Daerah Provinsi Jambi Nomor 1 Tahun 1969 tentang lambang Daerah Provinsi Jambi, lahirnya lambang daerah tersebut dimaksud sebagai pemeliharaan rasa kebangsaan sebagai Bangsa Indonesia serta memelihara rasa kesatuansebagai rakyat dari neagar Republik Indonesia dan untuk memperdalam rasa tanggungjawab terhadap pembangunan Daerah. Dengan demikian “ se” lebih menyatakan kepada satu kesatuan kebangsaan, satu kesatuan rakyat dan wilayah dari satu Negara Kesatuan Republik Indonesia.Lebih dari itu pada pasal 2 ayat (8) dari peraturan daerah dimaksud memberikan perkuatan penafsiran terhadap tulisan “ Sepucuk Jambi sembilan lurah “ didalam satu pita yang tergulung tiga dan kedua belah ujungnya bersegidua, sebagai melambangkan kebesaran dari “ Sepucuk Jambi sembilan lurah “ Sialang Lantak besi sampai durian batakuk Rajo dan Tanjung Jabung “ Perda yang ditandatangani oleh ketua DPRD –GR Drs.R.. Ismail Muhammad dengan wakil ketua masing-masing H.A.T Hanafiah dan M. Saman Idris dimasa Gubernur KDH Provinsi Jambi dijabat oleh R.M Noer Atmadibrata. Memang memuat penjelasan sebegitu saja. Risalah rapat –rapat maupun laporan Panitia Lambang Daerah tertanggal 7 April 1969 sampai sejauh ini belum dapat ditelusuri keberadaannya. Dengan Demikian pengertian “ Sepucuk Jambi sembilan lurah “ dan Tanjung Jabung itu tak bisa / belum bisa ditelusuri akan tambahan dan tanjung Jabung dalam satu pengertian Sepucuk Jambi Sembilan lurah .
Kalimat “ Pucuk Jambi saembilan Lurah “ terpatri dalam naskah lama ‘ undang –undang Piagam Pencacahan dan Kisah Negeri jambi “ yang ditulis Ngebi Sutho Silago Priyayi Rajo sari bertarikh 1356/1939 M, pada Kitab ini dalam pasal 37 pucuk Undang delapan berbunyi “ ..... yang bernama pucuk jambi ialah Uluan Jambi, pertama Pulau Umak disanalah Durian ditakuk Rajo sebelah hulu Sialang bertantak besi antara dengan Tanah Minagkabau, maka itulah bernama pucuk jambi, Adapun yang dinamakan Sembilan Lurah itu anak batanghari Jambi sungainyo yang besar 9 sungai, pertama Sungai Tembesi, Kedua Batang Merangin, Ketiga Batang Asai, keempat Sungai Tabir, Kelima Tebo, Keenam Bungo, Ketujuh Pelepat, Kedelapan Masumai, Kesembilan Jujuhan, Mako itulah yang dinamakan yang Sembilan Lurah.

Batas Wilayah Kerajaan dimasa lalu memang belum seperti sekarang dengan koordinat dan ordinat. Patok agrarianya berupa tanda –tanda alam atau simbol –simbol lain. Pada masa Kesultanan Jambi luas wilayah kekuasaan kerajaan disebut dari tanjung jabung sampai durian ditakuk Rajo, dari sialang belantak besi ke Bukit Tambun Tulang. Tanjung jabung adalah daerah pantai termasuk perairan dan gugusan pulau berhala. Durian di Takuk Rajo berada di Tanjung Simalidu, Sialang belantak Besi berdiri tegak di Bukit Sitinjau Laut dan Bukit Tambun Tulang Berada di singkut.
“ Pucuk Jambi Sembilan lurah Batangnya Alam Barajo “ artinya pucuk yaitu ulu, Dataran tinggi, Sembilan lurah adalah sembilan Negeri atau Wilayah daerah dan Batangnya alam Barajo yaitu teras kerajaan 12 suku/bangsa.
Mengenai “Sembilan Lurah” pepatah menyebut ”empat diatas tiga dibaruh”, empat di ateh diselenggarakan oleh empat depati yaitu :
1. Depati Rencong Telang yang berpusat di Pulau Sangkar dengan daerah kekuasaannya Meliputi Tanah sebelah Barat dan Selatan Danau Kerinci. Atau berwatas dengan depati biang sari di pengasi, sejak dari sebih kuning muaro seleman sampai Alam Pamuncak Nan Tigo kaum ( kerajaan Manjuto )
2. Depati Atur Bumi yang berpusat di Hiang meliputi tanah sebelah tenggara Danau Kerinci sampai Gunung Kerinci atau berwatas dengan kerajaan manjuto dan Depati Biang Sari. Daerah takhluknya Kerinci hulu VIII helai kain sampai Siulak Tanah Sekudung
3. Depati Biang Sari berpusat di Pengasi, Wilayah Takhluknya Pematang Tumbuk Tigo Sungai Tabir, Rantau Panjang, Pelepat, sampai Pulau Musang, Tanjung Simalidu ( Lihat Tambo Raden Sayrif, Jambi )
4. Depati Muara Langkap tanjung Sekian berpusat di Temiai, Berwatas dengan depati Rencong Telang sampai Sungai Bujur – Perentak – Pangkalan Jambu.
Ketinggian letak geografis keempat tanah Depati tersebut menyebabkan dataran tersebut dengan nama Empat Di Ateh ( daerah empat diatas ) yang sekarang telah menjadi Kabupaten Kerinci, Kecamatan Muara Siau, dan Kecamatan Jangkat, Pelepat ( Bungo), Rantau Panjang tabir, Kecamatan Sungai manau, Kecamatan Pangkalan Jambu.
Daerah Kerinci Rendah adalah Wilayah yang berada disebelah timur Kerinci Tinggi pada kaki pegunungan bukit Barisan. Topografinya berbukit-bukit dan disini mengalir banyak sungai dengan arus air yang tenang, tidak berbatu dan permukaan sungai lebar, sehingga dapat dilayari kapal kecil. Kondisi sungai tersebut sangat berbeda dengan sungai yang terdapat di kerinci Tinggi yang pada umumnya berarus deras, beriam, berair terjun (telun ), berbatu dan permukaan sempit, sekarang wilayah berada dalam daerah Kabupaten Merangin yaitu kecamatan Sungai manau, Bangko Pemenang, dan Tabir Rantau Panjang. Pada Wilayah Kerinci Rendah terdapat Tiga Tanah Depati dan Dua Daerah khusus dari Pemerintahan Depati Empat Alam Kerinci. Tanah Depati yang Dimaksud adalah Di sebut Tiga di bawah atau Tiga di baruh bangko yaitu :
1. Depati Setio Nyato di Tantan tanah Renah bangko
2. Depati Setio Betis(Bhakti) di Nalo Bangko
3. Depati Setio rajo di Lubuk Gaung bangko
Ketiga Depati ini Waris depatinya dari Pulau Sangkar anak Puti Lelo Baruji, Sehingga sampai sekarang disebut : Tigo Dibaruh Anak Batino Pulau Sangkar. Sedangkan Dearah Khususnya 1. Tanah Pamuncak Pulau Rengas 2. Tanah Pemuncak Pemberap pemenang. Ketiga tanah Depati dan dua daerah khusus itu, karena letaknya berada pada ketinggian jauh lebih rendah bila dibandingkan dengan daerah Kerinci Tinggi maka disebut dengan Tigo di baruh atau tiga dibawah. Dalam Pepatah adat yang menyebutkan tentang kekuasaan pemerintahan depati Empat alam Kerinci dikatakan lingkupnya mencakup empat diateh, tigo dibaruh, duo pemuncak pulau rengas dan pemerap pemenang. Kesembilan daerah kekuasaan depati emapat inilah yang disebut orang pada Zaman KerajaanJambi menurut Sepanjang adat dengan nama : Pucuk Jambi Sembilan Lurah, yaitu wilayah yang berada di daerah atas atau daerah bagian hulu dari kerajaan Jambi.
Dan dua di bangko bawah terdiri dari daerah batin IX ( batin IX ulu dan batin IX ilir) dan daerah yang di sebut Induk enam Anak sepuluh atau disebut juga sebagai daerah lurah XVI meliputi daerah – daerah Tiang pumpung, Dusun tuo, sanggerahan, sungai tenang, serampas, dan pemberap
Adapun “ Batangnyo alam Berajo” yaitu teras kerajaan dua belas/suku yaitu :
1. Jabus meliputi sabak dan dendang, Simpang Aur Gading, anjung dan londrang;
2. Pemayung meliputi teluk sebelah ulu, pudak kumpeh dan beberang,
3. maro sebo meliputi sungai buluh kasap, kembang seri, rengas sembilan, sungai aur, teluk lebar, mangupeh, remaji, rantau api, rambutan masam, dan kubu kandang,
4. Petaji meliputi Betung bedarah, penapaln, sungai keruh, teluk rendah, Dusun tuo, peninjauan tambun arang dan kemunduran kumpeh
5. VII koto yang juga disebut kembang paseban meliputi teluk ketapang, muaro tabun, nirah, sungai abang, teluk kayu putih, kuamang, dan tanjung.
6. Awin meliputi pulau kayu aro dan dusun tengah
7. Penagan negerinya yaitu Dusun kuap,
8. Mestong meliputi tarekan, lopak alai kota karang dan sarang burung
9. Serdadu dengan negerinya sungai terap
10. Kebalen negerinya terusan
11. Air Hitam meliputi ; Durian Ijo, tebing tinggi, pdang kelapo, Sungai seluang pematang buluh dan kejasung
12. Pinokawan tengah meliputi dusun ture lopak aur, pulau betung dan sungai duren


Menurut catatan tentara belanda secara geografis wlayah kerajaan jambi dibagi atas dua bagain besar Yaitu daerah huluan jambi meliputi DAS-DAS sungai tungkul ulu, Sungai Jujuhan, Batng Tebo, Tabir, Merangin, dan pangkalan jambi. Derah Hilir Jambi meliputi daerah yang dibatasi oleh Tungkal Hilir sampai Rantau Benar kedanau Ambat yaitu pertemuan sungai batanghari dan batang tembesi sampai perbatasan dengan Palembang
Keseluruhan wilayah dari sisi pendukung hukum adat jambi batas – batasnya secara lengkap berbunyi : Dari durian ditakuk Rajo lepas ke sialang berlantak besi , melayang ke tanjung Simalidu, menepat di beringin nan sebatang, beringin gedang nan sekali dalam mendaki bukit ke lank nan besibak, meniti pematangpanjang, menepat ke singkil tujuh belarik ke sepisak pisau hilang mendaki bukit alum babi. Mendaki pematang panjang menepat ke bukit cendaku laju ke ulu parit 9 menuju ke sungai retih dan sungai enggan meren tenjung labuh terjun ke laut nan mendidih menempuh ombak nan berdebur merapat kepulau tigo sebelah laut pulau berhalo, naik ke sekatak air hitam menuju ke bukit seguntang-guntang mendaki tuo lepas sungai bayung lincir laju ke hulu sungai singkut dikurung bergandeng bukit tigo, mudi ke serintik hujan panas, meniti bukit barisan, turun kerenah sungai buntal menuju ke sungai air dikit menepar ke hulu sungai ke taum mendaki bukit malin dewa laju ke Sungai ipuh mendaki bukit Sitinjau laut, sayup-sayup terdengar laut lepas menuju gunung berapi disitu tegak Gunung Kerinci menepat ke muaro Bento menempuh ke bukit kaco meniti pematang lesug terus menuju batu anggit dan batu kangkung, teratak tanjung pisang, siangkak – siangkang hilir pulo ke durian di tajuk rajo disitu mulai berjalan lamo berjalan meniti batas, itulah batas yang kini menjadi Wilayah Provinsi Jambi.


MAKNA SEPUCUK JAMBI SEMBILAN LURAH
PADA LAMBANG PROVINSI JAMBI
(dikutip/salin dari berbagai Sumber)

Rabu, 11 April 2012

JAMBI my life


Di Pulau Sumatera, Provinsi Jambi merupakan bekas wilayah Kesultanan Islam Melayu Jambi (1500-1901). Kesultanan ini memang tidak berhubungan secara langsung dengan 2 kerajaan Hindu-Budha pra-Islam. Sekitar Abad 6 – awal 7 M berdiri KERAJAAN MALAYU (Melayu Tua) terletak di Muara Tembesi (kini masuk wilayah Batanghari,Jambi).Catatan Dinasti Tang mengatakan bahwa awak Abad 7 M. dan lagi pada abad 9 M Jambi mengirim duta/utusan ke Empayar China ( Wang Gungwu 1958;74). Kerajaan ini bersaing dengan SRI WIJAYA untuk menjadi pusat perdagangan. Letak Malayu yang lebih dekat ke jalur pelayaran Selat Melaka menjadikan Sri Wijaya merasa terdesak sehingga perlu menyerang Malayu sehingga akhirnya tunduk kepada Sri Wijaya. Muaro jambi, sebuah kompleks percandian di hilir Jambi mungkin dulu bekas pusat belajar agama Budha sebagaimana catatan pendeta Cina I-Tsing yang berlayar dari India pada tahun 671. Ia belajar di Sriwijaya selama 4 tahun dan kembali pada tahun 689 bersama empat pendeta lain untuk menulis dua buku tentang ziarah Budha. Saat itulah ia tulis bahwa Kerajaan Malayu kini telah menjadi bahagian Sri Wijaya.

Abad ke 11 M setelah Sri Wijaya mulai pudar, ibunegeri dipindahkan ke Jambi ( Wolters 1970:2 ). Inilah KERAJAAN MALAYU (Melayu Muda) atau DHARMASRAYA berdiri di Muara Jambi. Sebagai sebuah bandar yang besar, Jambi juga menghasilkan berbagai rempah-rempahan dan kayu-kayuan. Sebaliknya dari pedagang Arab, mereka membeli kapas, kain dan pedang. Dari Cina, sutera dan benang emas, sebagai bahan baku kain tenun songket ( Hirt & Rockhill 1964 ; 60-2 ). Tahun 1278 Ekspedisi Pamalayu dari Singasari di Jawa Timur menguasai kerajaan ini dan membawa serta putri dari Raja Malayu untuk dinikahkan dengan Raja Singasari. Hasil perkawinan ini adalah seorang pangeran bernama Adityawarman, yang setelah cukup umur dinobatkan sebagai Raja Malayu. Pusat kerajaan inilah yang kemudian dipindahkan oleh Adityawarman ke Pagaruyung dan menjadi raja pertama sekitar tahun 1347. Di Abad 15, Islam mulai menyebar ke Nusantara.

KESULTANAN JAMBI

“Tanah Pilih Pesako Betuah”. Seloka ini tertulis di lambang Kota Jambi hari ini. Dimana menurut orang tua-tua pemangku adat Melayu Jambi, Kononnya Tuanku Ahmad Salim dari Gujerat berlabuh di selat Berhala, Jambi dan mengislamkan orang-orang Melayu disitu, ia membangun pemerintahan baru dengan dasar Islam, bergelar Datuk Paduko Berhalo dan menikahi seorang putri dari Minangkabau bernama Putri Selaras Pinang Masak. Mereka dikurniakan Allah 4 anak, kesemuanya menjadi datuk wilayah sekitar kuala tersebut. Adapun putra bungsu yang bergelar Orang Kayo Hitam berniat untuk meluaskan wilayah hingga ke pedalaman, jika ada tuah, membangun sebuah kerajaan baru. Maka ia lalu menikahi anak dari Temenggung Merah Mato bernama Putri Mayang Mangurai. Oleh Temenggung Merah Mato, anak dan menantunya itu diberilah sepasang Angsa serta Perahu Kajang Lako. Kepada anak dan menantunya tersebut dipesankan agar menghiliri aliran Sungai Batanghari untuk mencari tempat guna mendirikan kerajaan yang baru itu dan bahwa tempat yang akan dipilih sebagai tapak kerajaan baru nanti haruslah tempat dimana sepasang Angsa bawaan tadi mahu naik ke tebing dan mupur di tempat tersebut selama dua hari dua malam.

Setelah beberapa hari menghiliri Sungai Batanghari kedua Angsa naik ke darat di sebelah hilir (Kampung Jam), kampung Tenadang namanya pada waktu itu. Dan sesuai dengan amanah mertuanya maka Orang Kayo Hitam dan istrinya Putri Mayang Mangurai beserta pengikutnya mulailah membangun kerajaan baru yang kemudian disebut “Tanah Pilih”, dijadikan sebagai pusat pemerintahan kerajaannya (Kota Jambi) sekarang ini.

“Keris Siginjai”

Hubungan Orang Kayo Hitam dengan Tanah Jawa digambarkan dalam cerita orang tuo-tuo yang mengatakan bahwa Orang Kayo Hitam pergi ke Majapahit untuk mengambil Keris bertuah, dan kelak akan menjadikannya sebagai keris pusaka Kesultanan Jambi. Keris itu dinamakan ‘Keris Siginjai’. Keris Siginjai terbuat dari bahan-bahan berupa kayu, emas, besi dan nikel. Keris Siginjai menjadi pusaka yang dimiliki secara turun temurun oleh Kesultanan Jambi. Selama 400 tahun keris Siginjai tidak hanya sekadar lambang mahkota kesultanan Jambi, tapi juga sebagai lambang pemersatu rakyat Jambi.

Sultan terakhir yang memegang benda kerajaan itu adalah Sultan Achmad Zainuddin pada awal abad ke 20. Selain keris Siginjai ada sebuah keris lagi yang dijadikan mahkota kerajaan yaitu keris Singa Marjaya yang dipakai oleh Pangeran Ratu (Putra Mahkota). Pada tahun 1903 Pangeran Ratu Martaningrat keturunan Sultan Thaha yang terakhir menyerahkan keris Singa Marjaya kepada Residen Palembang sebagai tanda penyerahan. Pemerintah Hindia Belanda kemudian menyimpan Keris Siginjai dan Singa Marjaya di Museum Nasional (Gedung Gajah) di Batavia (Jakarta).

“Sepucuk Jambi, Sembilan Lurah”

Seloka ini tertulis di lambang Propinsi Jambi, menggambarkan luasnya wilayah Kesultanan Melayu Jambi yang merangkumi sembilan lurah dikala pemerintahan Orang Kayo Hitam, iaitu : VIII-IX Koto, Petajin, Muaro Sebo, Jebus, Aer Itam, Awin, Penegan, Miji dan Binikawan. Ada juga yang berpendapat bahwa wilayah Kesultanan Jambi dahulu meliputi 9 buah lurah yang dialiri oleh anak-anak sungai (batang), masing-masing bernama : 1. Batang Asai 2. Batang Merangin 3. Batang Masurai 4. Batang Tabir 5. Batang Senamat 6. Batang Jujuhan 7. Batang Bungo 8. Batang Tebo dan 9. Batang Tembesi. Batang-batang ini merupakan Anak Sungai Batanghari yang keseluruhannya itu merupakan wilayah Kesultanan Melayu Jambi.
Senarai Sultan Jambi (1790-1904)

1790 - 1812 Mas’ud Badruddin bin Ahmad Sultan Ratu Seri Ingalaga
1812 - 1833 Mahmud Muhieddin bin Ahmad Sultan Agung Seri Ingalaga
1833 - 1841 Muhammad Fakhruddin bin Mahmud Sultan Keramat
1841 - 1855 Abdul Rahman Nazaruddin bin Mahmud
1855 - 1858 Thaha Safiuddin bin Muhammad (1st time)
1858 - 1881 Ahmad Nazaruddin bin Mahmud
1881 - 1885 Muhammad Muhieddin bin Abdul Rahman
1885 - 1899 Ahmad Zainul Abidin bin Muhammad
1900 - 1904 Thaha Safiuddin bin Muhammad (2nd time)
1904 Dihancurkan Belanda

Provinsi Jambi

Wilayah propinsi Jambi hari ini pun terbagi atas 1 Bandar Ibukota (Jambi) dan 9 daerah –mungkin agar sesuai seloka adat tadi-. Tetapi nama daerahnya telah bertukar, Yaitu :

1. Muara Jambi –beribunegeri di Sengeti
2. Bungo –beribunegeri di Muaro Bungo
3. Tebo –beribunegeri di Muaro Tebo
4. Sarolangun –beribunegeri di Sarolangun Kota
5. Merangin/Bangko –beribunegeri di Kota Bangko
6. Batanghari –beribunegeri di Muara Bulian
7. Tanjung Jabung Barat –beribunegeri di Kuala Tungkal
8. Tanjung Jabung Timur –beribunegeri di Muara Sabak
9. Kerinci –beribunegeri di Sungai Penuh

dan 2 kota :
1. kota jambi
2. kota sungai penuh

Pada akhir abad ke XIX di daerah Jambi terdapat kerajaan atau Kesultanan Jambi. Pemerintahan kerajaan ini dipimpin oleh seorang Sultan dibantu oleh Pangeran Ratu (Pu­tra Mahkota) yang mengepalai Rapat Dua Belas yang merupakan Badan Pemerintahan Kerajaan.

Wilayah administrasi Kerajaan Jambi meliputi daerah-daerah seba­gaimana tertuang dalam adagium adat “Pucuk Jambi Sembilan Lurah, Batangnyo Alam Rajo” yang artinya : Pucuk yaitu ulu dataran tinggi, sem­bilan lurah yaitu sembilan negeri atau wilayah dan batangnya Alam Rajo yai­tu daerah teras kerajaan yang terdiri dari dua belas suku atau daerah.

Secara geografis keseluruhan daerah ­Kerajaan Jambi dapat dibagi atas dua bagian besar yakni :

*Daerah Huluan Jambi : meliputi Daerah Aliran Sungai tungkal Ulu, Daerah Aliran Sungai jujuhan, Daerah Aliran Sungai Batang Tebo, Daerah Sungai Aliran Tabir, daerah Aliran Sungai Merangin dan Pangkalan Jambu.*Daerah Hilir Jambi : meliputi wilayah yang dibatasi oleh Tungkal Ilir, sampai Rantau Benar ke Danau Ambat yaitu pertemuan Sungai Batang Hari dengan Batang Tembesi sampai perbatasan dengan daerah Palembang.

Sebelum diberlakukannya IGOB (Inlandsche Gemente Ordonantie Buitengewesten), yaitu peraturan pe­merintahan desa di luar Jawa dan Ma­dura, di Jambi sudah dikenal pemerintahan setingkat desa dengan nama marga atau batin yang diatur menurut Ordonansi Desa 1906. Pada ordonansi itu ditetapkan marga dan batin diberi hak otonomi yang meliputi bidang pe­merintahan umum, pengadilan, kepo­lisian, dan sumber keuangan.

Pemerintahan marga dipimpin oleh Pasirah Kepala Marga yang dibantu oleh dua orang juru tulis dan empat orang kepala pesuruh marga. Kepala Pesuruh Marga juga memimpin peng­adilan marga yang dibantu oleh hakim agama dan sebagai penuntut umum adalah mantri marga. Di bawah peme­rintahan marga terdapat dusun atau kampung yang dikepalai oleh peng­hulu atau kepala dusun atau Kepala Kampung.

Pada masa pemerintahan Belanda tidak terdapat perubahan struktur pemerintahan di daerah Jambi. Daerah ini merupakan salah satu karesidenan dari 10 karesidenan yang dibentuk Belanda di Sumatera yaitu: Karesidenan Aceh, Karesidenan Tapanuli, Karesidenan Sumatera Timur, Karesidenan Riau, Karesidenan Jambi, Karesidenan Sumatera Barat, Karesidenan Palembang, Karesidenan Beng­kulu, Karesidenan Lampung, dan Karesidenan Bangka Belitung.
Khusus Karesidenan Jambi yang beribu kota di Jambi dalam peme­rintahannya dipimpin oleh seorang Residen yang dibantu oleh dua orang asisten residen dengan mengko­ordinasikan beberapa Onderafdeeling. Keadaan ini berlangsung sampai masuknya bala tentera Jepang ke Jambi pada tahun 1942.

Berdasarkan cerita rakyat setempat, nama Jambi berasal dari perkataan “jambe” yang berarti “pinang”. Nama ini ada hubungannya dengan sebuah legenda yang hidup dalam masyarakat, yaitu legenda mengenai Raja Putri Selaras Pinang Masak, yang ada kaitannya dengan asal-usul provinsi Jambi.

Penduduk asli Provinsi Jambi terdiri dari beberapa suku bangsa, antara lain Melayu Jambi, Batin, Kerin­ci, Penghulu, Pindah, Anak Dalam (Kubu), dan Bajau. Suku bangsa yang disebutkan pertama merupakan pen­duduk mayoritas dari keseluruhan penduduk Jambi, yang bermukim di sepanjang dan sekitar pinggiran sungai Batanghari.

Suku Kubu atau Anak Dalam dianggap sebagai suku tertua di Jambi, karena telah menetap terlebih dahulu sebelum kedatangan suku-suku yang lain. Mereka diperkirakan meru­pakan keturunan prajurit-prajurit Minangkabau yang bermaksud mem­perluas daerah ke Jambi. Ada sementara informasi yang menyatakan bahwa su­ku ini merupakan keturunan dari per­campuran suku Wedda dengan suku Negrito, yang kemudian disebut seba­gai suku Weddoid.

Orang Anak Dalam dibedakan atas suku yang jinak dan liar. Sebutan “ji­nak” diberikan kepada golongan yang telah dimasyarakatkan, memiliki tem­pat tinggal yang tetap, dan telah mengenal tata cara pertanian. Se­dangkan yang disebut “liar” adalah mereka yang masih berkeliaran di hutan-hutan dan tidak memiliki tempat tinggal tetap, belum mengenal sistem bercocok tanam, serta komunikasi dengan dunia luar sama sekali masih tertutup.

Suku-suku bangsa di Jambi pada umumnya bermukim di daerah pede­saan dengan pola yang mengelompok. Mereka yang hidup menetap tergabung dalam beberapa larik (kumpulan rumah panjang beserta pekarang­annya). Setiap desa dipimpin oleh seorang kepala desa (Rio), dibantu oleh mangku, canang, dan tua-tua tengganai (dewan desa). Mereka inilah yang bertugas mengambil keputusan yang menyangkut kepentingan hidup ma­syarakat desa.

Strata Sosial masyarakat di Jambi tidak mempunyai suatu konsepsi yang jelas tentang sistem pelapisan sosial dalam masyarakat. Oleh sebab itu jarang bahkan tidak pernah terdengar istilah-­istilah atau gelar-gelar tertentu untuk menyebut lapisan-lapisan sosial dalam masyarakat. Mereka hanya mengenal sebutan-sebutan yang “kabur” untuk menunjukkan status seseorang, seperti orang pintar, orang kaya, orang kam­pung dsb.

Pakaian Pada awalnya masyarakat pede­saan mengenal pakaian sehari-hari berupa kain dan baju tanpa lengan. Akan tetapi setelah mengalami proses akulturasi dengan berbagai kebu­dayaan, pakaian sehari-hari yang dikenakan kaum wanita berupa baju kurung dan selendang yang dililitkan di kepala sebagai penutup kepala. Sedangkan kaum pria mengenakan celana setengah ruas yang mengge­lembung pada bagian betisnya dan umumnya berwarna hitam, sehingga dapat leluasa bergerak dalam mela­kukan pekerjaan sehari-hari. Pakaian untuk kaum pria ini dilengkapi deng­an kopiah.

Kesenian di Provinsi Jambi yang terkenal antara lain Batanghari, Kipas perentak, Rangguk, Sekapur sirih, Selampit delapan, Serentak Satang.

Upacara adat yang masih dilestarikan antara lain Upacara Lingkaran Hidup Manusia, Kelahiran, Masa Dewasa, Perkawinan, Berusik sirih bergurau pinang, Duduk bertuik, tegak betanyo, ikat buatan janji semayo, Ulur antar serah terimo pusako dan Kematian.

Filsafat Hidup Masyarakat Setempat:

Sepucuk jambi sembilan lurah, batangnyo alam rajo.
Lambang Daerah Tingkat I Provinsi Jambi, berbentuk Bidang Dasar Segi Lima, menggambarkan lambang Jiwa dan semangat Pancasila
Masjid, melambangkan Ketuhanan dan Keagamaan;
Keris, melambangkan kepahlawanan dan Kejuangan;
Gong, melambangkan jiwa musyawarah dan Demokrasi.

Dengan berakhirnya masa kesultanan Jambi menyusul gugurnya Sulthan Thaha Saifuddin tanggal 27 April 1904 dan berhasilnya Belanda menguasai wilayah-wilayah Kesultanan Jambi, maka Jambi ditetapkan sebagai Keresidenan dan masuk ke dalam wilayah Nederlandsch Indie. Residen Jambi yang pertama O.L Helfrich yang diangkat berdasarkan Keputusan Gubernur Jenderal Belanda No. 20 tanggal 4 Mei 1906 dan pelantikannya dilaksanakan tanggal 2 Juli 1906.

Kekuasan Belanda atas Jambi berlangsung ± 36 tahun karena pada tanggal 9 Maret 1942 terjadi peralihan kekuasaan kepada Pemerintahan Jepang. Dan pada 14 Agustus 1945 Jepang menyerah pada sekutu. Tanggal 17 Agustus 1945 diproklamirkanlah Negara Republik Indonesia. Sumatera disaat Proklamasi tersebut menjadi satu Provinsi yaitu Provinsi Sumatera dan Medan sebagai ibukotanya dan MR. Teuku Muhammad Hasan ditunjuk memegangkan jabatan Gubernurnya. Pada tanggal 18 April 1946 Komite Nasional Indonesia Sumatera bersidang di Bukittinggi memutuskan Provinsi Sumatera terdiri dari tiga Sub Provinsi yaitu Sub Provinsi Sumatera Utara, Sumatera Tengah dan Sumatera Selatan.

Selasa, 10 April 2012

Keindahan Alam Provinsi Jambi

Banyak yang mengira bahwa provinsi jambi itu tidak mempunyai tempat-tempat wisata yang menarik,anggapan itu salah,banyak kok tempat-tempat wisata yang indah.
1. Danau Kerinci
Oke, Kita mulai. Pertama kali masuk kabupaten Kerinci dari Bangko, selain melihat alam yang masih hijau dan sejuk, kita langsung di sambut dengan pemandangan indah dari DANAU KERINCI. 174f8268cd49efb4a76901619fc13797_wisata2 
Yang mana Danau Kerinci merupakan Danau Terbesar Kedua Setelah Danau Toba di Sumatera. Luas Danau Kerinci ±5000m2 dengan ketinggian ±783m dan kedalaman ±110m. Selain panorama alam yang indah, interaksi masyarakat sekitar dengan danau juga menyajikan kesan tersendiri bagi pengunjung, seperti para nelayan yang mencari ikan dengan menggunakan peralatan tradisional seperti pancing tangguk, jaring, jala, serta lukah. Jika beruntung, saat nelayan mendarat, pengunjung dapat membeli ikan segar dibawah harga pasar. Woooow… enak tu bakar ikan di pantai danau sambil menyaksikan Matahari terbenam.. :D di atas permukaan laut
2. Danau Gunung Tujuh
a1c754ff655be5747d225e3281b7441d_wisata3 
Selain Danau Kerinci terdapat lagi beberapa danau lain nya seperti DANAU GUNUNG TUJUH. Ya seperti nama nya, danau ini di kelilingi oleh 7 Buah Gunung yang menjulang tinggi sebagai dinding dari danau tersebut. Danau Gunung Tujuh merupakan danau kaldera yang terbentuk akibat kegiatan gunung berapi di masa lampau. Pada ketinggian 1.996 m dpl, DANAU INI MERUPAKAN DANAU TERTINGGI DI ASIA TENGGARA KARNA DANAU INI TERLETAK DI ATAS GUNUNG. Danau ini sering ditutupi kabut dengan suhu rata-rata 17 0C. Luas Danau ± 960 ha dengan panjang berkisar 4,5 km dan lebar 3 km. Danau ini dikelilingi oleh tujuh gunung, yaitu Gunung Hulu Tebo (2.525 meter), Gunung Hulu Sangir (2.330 m), Gunung Madura Besi (2.418 m), Gunung Lumut yang ditumbuhi berbagai jenis lumut (2.350 m), Gunung Selasih (2.230 m), Gunung Jar Panggang (2.469 m), dan Gunung Tujuh (2.735 m).
Danau ini terletak di Desa Pelompek Kecamatan Kayu Aro dengan jarak ± 56 km dari Sungai Penuh. Untuk menikmati keindahan dan kesejukkan udara Danau Gunung Tujuh pengunjung harus berjalan kaki melewati jalan setapak selama 2-3 jam.
3. Danau Belibis
99edcc5739eeee379a87b8d0c80dfa46_wisata4 
DANAU BELIBIS dengan alam yang masih asli memberikan sentuhan yang berbeda, Danau Belibis termasuk danau kaldera dengan luas sekitar 2 ha. Danau ini terletak di lereng Gunung Kerinci yang berhutan lebat. Kondisi alam pegunungan disekitar danau masih asli dan merupakan salah satu obyek wisata yang mempunyai daya tarik khusus untuk dikunjungi. Danau yang indah ini dengan dikellingi oleh tebing-tebing curam merupakan tempat minum berbagai jenis satwa dan tempat berkumpulnya belibis. Danau Belibis dapat dicapai melalui Desa Gunung Labu atau Desa Kebun Baru. Jarak tempuh dari Kota Sungai Penuh lebih kurang 52 km.

4. Danau Kaco
Masih Mengenai Danau, Terdapat satu danau lagi yang dinamakan DANAU KACO. Danau Kaco terletak dalam Kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS). Danau yang memiliki luas sekitar 30 x 30 meter ini memiliki kedalaman yang masih menjadi misteri. Meskipun memiliki kedalaman air yang tidak terukur, namun dasar Danau Kaco bisa terlihat secara jelas. Ini karena warna air yang bening dan jernih serta tempat ribuan ikan semah berkembang biak
b33857a30abb3c0231e125c053f66941_wisata5













Selain itu, Danau Kaco juga mengeluarkan cahaya yang terang, terutama pada saat bulan purnama. “Jika berkemah di Danau Kaco, apalagi saat bulan purnama, maka pengunjung tidak membutuhkan penerangan karena air danau mengeluarkan cahaya yang cukup terang. Jika dilihat dari kejauhan, cahayanya terlihat seperti lampu yang diarahkan ke langit,” katanya.
Untuk bisa sampai ke Danau Kaco, pengunjung harus berjalan kaki selama empat jam dari Desa Lempur, Kecamatan Gunung Raya, melintasi kawasan TNKS. Selama di perjalanan, pengunjung akan disuguhi pemandangan alam yang masih sangat asri karena dilindungi oleh warga setempat.

5. Air Terjun Telun Berasap
412f8a8d264ac07598692c501a0cd30c_wisata7 
Oke, Sesi DANAU Sudah Selesai. Sekarang kita masuk sesi Air Terjun lagi. Air terjun yang paling terkenal di kerinci adalah AIR TERJUN TELUN BERASAP. AIR TERJUN TERSEBUT BERSUMBER DARI  SUNGAI YANG BERHULU DI DANAU GUNUNG TUJUH YANG MENGALIR MELEWATI TEBING TERJAL DENGAN  KETINGGIAN SEKITAR 50 M. Orang Jambi menyebutnya Air Terjun Telun Berasap  karena besarnya debit air yang turun sehingga menimbulkan “kabut air”  di sekelilingnya.
Di balik Air Terjun Telun Berasap, terdapat sebuah  goa. Masyarakat setempat tidak berani memasuki goa tersebut karena medannya begitu  sulit dilalui. Air terjun yang sangat deras dengan karang yang terjal, menyebabkan gua tersebut tidak pernah dikunjungi oleh masyarakat maupun para wisatawan yang  berkunjung ke objek wisata Air Terjun Telun Berasap.
Air terjun Telun Barasap menyuguhkan pemandangan yang  indah, dengan debit air yang deras sehingga membentuk percikan air yang lembut mirip seperti asap putih atau dikenal juga dengan kabut air. Butiran-butiran uap air yang terbentuk dari kabut air tersebut berwarna indah tatkala disinari cahaya mentari dengan memantulkan kemilau cahaya yang berwarna-warni. Air terjun ini terletak di Desa Telun Berasap,  Kecamatan Kayu Aro, Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi, Indonesia.
6. Air Terjun Pancuran Rayo
8cb297c90fc1554a4c2cfe9fb8bbf72c_wisata7a 
Daya tarik air terjun berketinggian ± 150 m ini berupa hujan embun yang tercipta akibat ketinggiannya serta kolam pemandian alam yang unik dan menarik. Kondisi hutan disekeliling air terjun ini masih alami dan merupakan habitat tumbuhan rotan yang dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan meubel dan kerajinan lain. Desa Lempur Danau dan Desa Pulau Tengah merupakan dua desa yang berdekatan letaknya dengan obyek wisata ini. Dari kedua desa dimaksud akan mudah untuk mengunjungi Air Terjun Pancaro Rayo dan Air Terjun Pancuran Gading. Perjalanan dari Kota Sungai Penuh sejauh ± 12 Km untuk mencapai kedua desa tersebut.

7. Air Panas Semurup
Obyek wisata Air panas Semurup ini terletak di Desa Air Panas Baru Kecamatan Air Hangat,berjarak kira-kira 11 Km dari Kota Sungai Penuh,ibukota kab Kerinci. Air Panas yang keluar dari perut bumi merupakan hasil kegiatan vulkanik, dengan luas permukaan ± 15 m2 membentuk sebuah kolam kecil yang selalu mengepulkan asap. jika wisatawan berkunjung ke obyek wisata air panas Semurup ini,wisatawan 
89323016e9b51cb998a86e6fa2c25a2e_wisata8 
dapat melakukan beberapa kegiatan diantaranya,merebus telor atau pisang dengan air panas yang mendidih dengan cara memasukkan telur atau pisang tersebut kedalam jaring dan di celupkan ke dalam air yang mendidih tersebut tetapi harus hati-hati jangan sampai kecebur,bisa fatal akibatnya. Disamping itu, ada juga fasilitas kamar mandi yang di gunakan untuk berendam,guna PENYEMBUHAN BEBERAPA PENYAKIT,SEPERTI PENYAKIT KULIT DAN REMAUTIK ( HEALTH TOURISM ). Tidak jauh dari obyek utama terdapat pula sumber air panas yang unik yang juga ramai dikunjungi oleh wisatawan.
8. KEBUN TEH
Perkebunan teh dalam satu hamparan yang TERLUAS DI DUNIA TERNYATA ADA DI INDONESIA, yaitu di Kayu Aro, Kecamatan Kayu Aro, Kabupaten Kerinci, Provinsi Jambi, sekitar 452 km sebelah barat Kota Jambi. Lokasi tepatnya di kaki sebelah selatan Gunung Kerinci, GUNUNG TERTINGGI DI SUMATERA (3.805 meter dari permukaan laut). Mata kami seperti tak ingin berkedip saat melintasi perkebunan teh Kajoe Aro yang dibuka sejak tahun 1925 M.
d6828d1ffe860babae94a0f3c559cf08_wisata9Perkebunan Teh Kajoe Aro yang dibangun sekitar tahun 1925 oleh perusahaan Belanda, Namblodse Venotschaaf Handle Veriniging Amsterdam (NV HVA), ini semula digarap ramai-ramai oleh kuli atau pekerja-pekerja yang sengaja didatangkan dari Pulau Jawa. Nah, pemetik teh yang sekarang adalah anak-anak atau cucu-cucu para kuli pada masa lalu. Di Perkebunan Teh Kajoe Aro telah berkembang permukiman para pemetik kebun, lengkap dengan sarana kesehatan, pendidikan, dan pasar.
Tak hanya saat menikmati sejuk dan indahnya hijau perbukitan yang berada di ketinggian 1.400 meter hingga 1.600 meter dari permukaan laut (dpl). Selain menyaksikan pohon-pohon teh tua varietas Seddling asli didatangkan dari Belanda, kita juga dapat menikmati citarasa teh sesungguhnya.
Seluruh jenis teh ini diakui oleh para penikmatnya, sebagai teh dengan citarasa terbaik yang ada di dunia. Itu sebabnya Ratu Inggris Elizabeth II masih setia menikmati Teh Kajoe Aro setiap hari. Bahkan, 80 persen dari hampir enam juta kilogram produksi teh kering per tahun yang dihasilkan PTPN VI, diekspor ke Inggris. Sisanya, diekspor ke sejumlah negara di Eropa, Timur Tengah, dan dalam negeri. Selain teh-teh Grade I, ada delapan jenis lain yang diproduksi, masuk kategori Grade II dan III.
Pada penjajahan Belanda, teh Kayu Aro dikenal sebagai minuman Ratu Belanda, Wihelmina. Sekarang diyakini juga menjadi minuman favorit Ratu Belanda Beatrix.
Hingga kini, pabrik teh Kayu Aro yang berusia 70 tahun itu merupakan Pabrik Teh Terbesar Di Dunia dan masih aktif berproduksi.
Ya sudah, sebenarnya masih banyak lagi wisata yang belum di sebutkan dalam artikel ini,, karna keterbatasan waktu jadi cukup di uraikan beberapa wisata yang sering di kunjungi oleh wisatawan lokal maupun asing saja.

Asal - Usul Batik Jambi








Pada zaman dahulu batik Jambi hanya dipakai sebagai pakaian adat bagi kaum bangsawan/raja Melayu Jambi. Hal ini berawal pada tahun 1875, Haji Muhibat beserta keluarga datang dari Jawa Tengah untuk menetap di Jambi dan memperkenalkan pengolahan batik. Motif batik yang diterapkan pada waktu itu berupa motif - motif ragam hias seperti terlihat pada ukiran rumah adat Jambi dan pada pakaian pengantin, motif ini masih dalam jumlah yang terbatas. Penggunaan motif batik Jambi, pada dasarnya sejak dahulu tidak dikaitkan dengan pembagian kasta menurut adat, namun sebagai produk yang masih eksklusif pemakaiannya dan masih terbatas di lingkungan istana.

Dengan berkembangnya waktu, motif yang dipakai oleh para raja dan keluarganya saat ini tidak dilarang digunakan oleh rakyat biasa. Keadaan ini menambah pesatnya permintaan akan kain batik sehingga berkembanglah industri kecil rumah tangga yang mengelola batik secara sederhana.

Perkembangan batik sempat terputus beberapa tahun, dan pertengahan tahun 70-an ditemukan beberapa lembar batik kuno yang dimiliki oleh salah seorang pengusaha wanita "Ibu Ratu Mas Hadijah" dan dari sanalah batik Jambi mulai digalakkan kembali pengembangannya. Salah seorang ibu yang turut juga membantu perkembangan pembatikan di Jambi adalah Ibu Zainab dan Ibu Asmah yang mempunyai keterampilan membatik di Seberang Kota.

Pada mulanya pewarnaan batik Jambi masih menggunakan bahan-bahan alami dari tumbuh-tumbuhan yang terdapat di dalam hutan daerah Jambi, seperti :

  1. Kayu Sepang menghasilkan warna kuning kemerahan.
  2. Kayu Ramelang menghasilkan warna merah kecokelatan.
  3. Kayu Lambato menghasilkan warna kuning.
  4. Kayu Nilo menghasilkan warna biru.
Warna-warna tersebut merupakan warna tradisional batik Jambi, yang mempunyai daya pesona khas yang berbeda dari pewarna kimia.

Pada tahun 1980 tanggal 12 s/d 22 Oktober di Desa Ulu Gedong diadakan Pendidikan dan Pelatihan Batik di Kotamadya Jambi, diklat yang pertama kali di selenggarakan ini diprakarsai oleh Kanwil Departemen Perindustrian Propinsi Jambi (Drs. H. Suprijadi Soleh) bekerjasama dengan instansi terkait dan Ketua Tim Penggerak PKK Propinsi Jambi (Prof. Dr. Sri Soedewi Maschun Sofwan, SH.), dengan mendatangkan tenaga pelatih /instruktur dari Balai Besar Kerajinan clan Batik Yogyakarta.

Sampai saat ini tidak seorangpun tahu dengan pasti siapa pencipta motif batik tradisional yang sangat banyak jumlahnya, juga filosofi yang terkandung dalam motif tersebut. Yang jelas motif batik daerah Jambi mempunyai ciri-ciri khas tersendiri dan telah berkembang sedemikian rupa hingga dikenal oleh masyarakat Indonesia dan mancanegara.

Dengan munculnya industri tekstil bermotif batik, disatu sisi merupakan penunjang atas keberadaan dan pelestarian motif batik tradisional itu sendiri, karena semakin banyak yang menerapkan motif batik tradisional berarti pelestarian, terutama dari segi motif dapat dipertahankan. Tetapi dari segi kehidupan industri batik tradisional justru sebaliknya, karena tekstil bermotif batik yang diproduksi secara besar--besaran akan menjatuhkan harga batik tradisional disamping mempercepat tingkat kejenuhan motif akan tersebut dimata konsumen.
Kondisi persaingan antara industri tekstil bermotif batik dan industri batik tradisional, sebenarnya tidak perlu terlalu dikhawatirkan, karena masing-masing produk mempunyai segmen pasar tersendiri, seperti :

  1. Segmen pasar eksklusif (berdisain khusus dan mewah, biasanya terbuat dari sutra dan merupakan batik tulis tangan yang sangat halus detailnya).
  2. Segmen pasar menengah (untuk kepentingan masyarakat umum).
  3. Segmen pasar massal untuk memenuhi kebutuhan seragam sekolah, organisasi, kantor dan sebagainya (batik cap yang diproduksi massal).
Oleh karena itu dalam upaya percepatan pengembangan kerajinan batik, kondisi ini merupakan persoalan yang harus diperhatikan, sehingga dalam pembinaan dan pengembangan industri batik tradisional, baik motif maupun industri batiknya sendiri, diharapkan dapat terus maju bersama dan saling mendukung, karena batik tidak hanya sekedar selembar tekstil dengan motif dan proses tertentu, tetapi merupakan khasanah hasil seni budaya bangsa Indonesia yang merupakan identitas kita, karena dimata dunia, batik identik dengan Indonesia. Hal lain yang juga sangat perlu diperhatikan sejalan dengan usaha untuk menembus pasar global adalah upaya agar motif batik Jambi mendapatkan pengesahan Hak Atas Kekayaan Intelektual (HAKI) / Patent Rights baik secara Nasional maupun Internasional.

Budaya Jambi - Seni Kebudayaan Propinsi Daerah Jambi -


Salah satu Propinsi yang ada di Sumatera ini memiliki adat istiadat dari budaya melayu yang cukup dominan. Mari kita kenal kebudayaan Jambi sebagai bagian dari khasanah kebudayaan nasional Indonesia.

Bahasa daerah di Provinsi Jambi, yaitu Bahasa Melayu. tapi terdapat beberapa dialek lokal seperti seperti misalnya Kerinci, Bungo-Tebo, Sarolangun, Bangko, Jambi Seberang, Anak Dalam serta Campuran. Khusus untuk penduduk Kerinci, ada aksara tersendiri yang bagi masyarak setempat dikenal dengan nama Aksara Encong.

Multietnis, itulah gambaran dari suku daerah di Jambi. Tapi sebagian besar suku yang ada di sana adalah suku Melayu Jambi. Lainnya, terdapat berbagai suku dan etnis dari seluruh daerah di Indonesia. Etnis yang paling dominan adalah stnis Minang, etnis Bugis, suku Jawa, Sunda, Batak, Cina, Arab, hingga dari India.

Karena adat istiadat di Propinsi adalah adat Melayu yang paling dominan. Maka adat inilah yang sering di gunakan untuk mengatur segala kegiatan serta tingkah laku warga masyarakat Jambi dengan bersendikan kepada hukum islam. Adagium "Adat bersendikan sara’, sara’ bersendikan kitabullah" atau "Sara" mengato adat memakai" sangat memsyarakat di sana. Penegak syariat Islam banyak mewarnai masyarakat Jambi. Dalam kehidupan kesehariannya, banyak ajaran serta pengaruh Islam diterapkan, misalnya tradisi tahlilan kematian, Yasinan.

Untuk memperkuat dan memelihara adat istiadat tersebut, berbagai kegiatan kesenian dan sosial budaya kerap di lakukan, antara lain :

1. Tari Asik, dilakukan oleh sekelompok orang untuk mengusir bala penyakit;
2. Tradisi Berdah, dilaksanakan saat terjadi bencana dengan tujuan menolak bencana;
3. Kenduri Seko, bertujuan untuk membersihkan pusaka dalam bentuk keris, tombak, Al Kitab dalam bentuk Ranji–ranji Kuno;
4. Mandi Safar, dilaksanakan pada hari Rabu di akhir bulan Safar bertujuan untuk menolak bala;
5. Mandi Belimau Gedang, dilaksanakan menjelang Ramadhan dengan tujuan menyucikan dan mengharumkan diri; dan
6. Ziarah Kubur, dilaksanakan menjelang Ramadhan dengan tujuan mendoakan arwah leluhur.

Provinsi Jambi sangat kaya akan kerajinan daerah, salah satu bentuk kerajinan daerah adalah anyaman yang berkembang dalam bentuk aneka ragam. Kerajinan anyaman di buat dari daun pandan, daun rasau, rumput laut, batang rumput resam, rotan, daun kelapa, daun nipah, dan daun rumbia. Hasil anyaman ini bermacam–macam pula, mulai dari bakul, sumpit, ambung, katang–katang, tikar, kajang, atap, ketupat, tudung saji, tudung kepala dan alat penangkap ikan yang disebut Sempirai, Pangilo, lukah dan sebagainya. Kerajinan lainnya adalah hasil tenun yang sangat terkenal, yaitu tenunan dan batik motif flora.

sekilas tentang JAMBI

Berdasarkan cerita rakyat setempat, nama Jambi berasal dari perkataan "jambe" yang berarti "pinang". Nama ini ada hubungannya dengan sebuah legenda yang hidup dalam masyarakat, yaitu legenda mengenai Raja Putri Selaras Pinang Masak, yang ada kaitannya dengan asal-usul provinsi Jambi.

Penduduk asli Provinsi Jambi terdiri dari beberapa suku bangsa, antara lain Melayu Jambi, Batin, Kerin­ci, Penghulu, Pindah, Anak Dalam (Kubu), dan Bajau. Suku bangsa yang disebutkan pertama merupakan pen­duduk mayoritas dari keseluruhan penduduk Jambi, yang bermukim di sepanjang dan sekitar pinggiran sungai Batanghari.
Suku Kubu atau Anak Dalam dianggap sebagai suku tertua di Jambi, karena telah menetap terlebih dahulu sebelum kedatangan suku-suku yang lain. Mereka diperkirakan meru­pakan keturunan prajurit-prajurit Minangkabau yang bermaksud mem­perluas daerah ke Jambi. Ada sementara informasi yang menyatakan bahwa su­ku ini merupakan keturunan dari per­campuran suku Wedda dengan suku Negrito, yang kemudian disebut seba­gai suku Weddoid.
Orang Anak Dalam dibedakan atas suku yang jinak dan liar. Sebutan "ji­nak" diberikan kepada golongan yang telah dimasyarakatkan, memiliki tem­pat tinggal yang tetap, dan telah mengenal tata cara pertanian. Se­dangkan yang disebut "liar" adalah mereka yang masih berkeliaran di hutan-hutan dan tidak memiliki tempat tinggal tetap, belum mengenal sistem bercocok tanam, serta komunikasi dengan dunia luar sama sekali masih tertutup.
Suku-suku bangsa di Jambi pada umumnya bermukim di daerah pede­saan dengan pola yang mengelompok. Mereka yang hidup menetap tergabung dalam beberapa larik (kumpulan rumah panjang beserta pekarang­annya). Setiap desa dipimpin oleh seorang kepala desa (Rio), dibantu oleh mangku, canang, dan tua-tua tengganai (dewan desa). Mereka inilah yang bertugas mengambil keputusan yang menyangkut kepentingan hidup ma­syarakat desa.

Strata Sosial masyarakat di Jambi tidak mempunyai suatu konsepsi yang jelas tentang sistem pelapisan sosial dalam masyarakat. Oleh sebab itu jarang bahkan tidak pernah terdengar istilah-­istilah atau gelar-gelar tertentu untuk menyebut lapisan-lapisan sosial dalam masyarakat. Mereka hanya mengenal sebutan-sebutan yang "kabur" untuk menunjukkan status seseorang, seperti orang pintar, orang kaya, orang kam­pung dsb.

Pakaian Pada awalnya masyarakat pede­saan mengenal pakaian sehari-hari berupa kain dan baju tanpa lengan. Akan tetapi setelah mengalami proses akulturasi dengan berbagai kebu­dayaan, pakaian sehari-hari yang dikenakan kaum wanita berupa baju kurung dan selendang yang dililitkan di kepala sebagai penutup kepala. Sedangkan kaum pria mengenakan celana setengah ruas yang mengge­lembung pada bagian betisnya dan umumnya berwarna hitam, sehingga dapat leluasa bergerak dalam mela­kukan pekerjaan sehari-hari. Pakaian untuk kaum pria ini dilengkapi deng­an kopiah.

Kesenian di Provinsi Jambi yang terkenal antara lain Batanghari, Kipas perentak, Rangguk, Sekapur sirih, Selampit delapan, Serentak Satang.

Upacara adat yang masih dilestarikan antara lain Upacara Lingkaran Hidup Manusia, Kelahiran, Masa Dewasa, Perkawinan, Berusik sirih bergurau pinang, Duduk bertuik, tegak betanyo, ikat buatan janji semayo, Ulur antar serah terimo pusako dan Kematian
Filsafat Hidup Masyarakat Setempat: Sepucuk jambi sembilan lurah, batangnyo alam rajo.
sumber:Depdagri